Bom Hidrogen Kontinyu

Posted: March 16, 2011 in Science Generale
Tags: , , ,

Pre-Note: Tulisan ini sebenarnya sudah saya drafting setahun yang lalu. Namun baru sempat saya posting saat ini, terutama karena teringat akan meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Jepang akibat gempa beberapa hari yang lalu.

 

Apa itu bom hidrogen kontinyu?

Untuk menjawabnya, kita harus tahu dulu apa itu bom hidrogen. Tapi sayangnya, bom hidrogen itu hanya bisa meledak pada temperatur yang sangat tinggi. Temperatur yang tinggi tersebut diperoleh dari bom nuklir… Jadi begini hirarkinya: untuk mengetahui apa itu bom hidrogen kontinyu, kita harus tahu dulu apa itu bom hidrogen. Dan untuk tahu apa itu bom hidrogen, kita harus tahu dulu apa itu bom nuklir.

Bom Nuklir

Bom nuklir dikenal juga dengan sebutan bom atom. Boleh jadi, yang paling diingat tentang bom nuklir adalah bahwa bom jenis ini digunakan oleh pasukan sekutu pada tahun 1945 untuk meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Ledakan nuklir tersebut kemudian menjadi pertanda berakhirnya Perang Dunia Kedua.

Dari kedua bom yang diledakkan tersebut, Bom Nagasaki (disebut Fat Man) memiliki daya ledak yang lebih tinggi. Yaitu sekitar 21.000 ton TNT. Berikut gambar replika dari si Fat Boy dan awan yang terbentuk pasca ledakan.



Apa itu bom nuklir??? Bom nuklir pada dasarnya adalah bom yang bisa meledak diakibatkan oleh reaksi fisi atau reaksi pembelahan inti. Wadduh, apa lagi itu reaksi fisi?

Bayangkan papan biliar dengan bola-bola di atasnya. Bayangkan pula satu buah bola putih yang digunakan untuk menembak sasaran. Pada awal permainan, bola putih akan ditembakkan ke arah kumpulan bola di tengah-tengah meja. Akibatnya, seluruh bola akan terpencar kemana-mana.

 

Kurang lebih demikianlah rekasi fisi tersebut… Sebagai pengganti bola biliar putih, bayangkan satu buah neutron. Dan sebagai pengganti kumpulan bola di tengah meja, bayangkan inti atom Uranium yang terdiri dari 235 buah bola-bola kecil.. Suatu ketika, bola putih / neutron ditembakkan ke arah kumpulan 235 bola lainnya (yang merupakan inti dari Uranium)… Akibatnya, kumpulan bola itu akan pecah. Bedanya, kumpulan bola tersebut tidak tercerai-berai secara acak. Melainkan terpecah menjadi dua buah kumpulan baru…. Susah membayangkan??? Mungkin gambar berikut bisa membantu.




Eh, ternyata tembakan tersebut tidak hanya membelah atom Uranium menjadi dua, namun juga “membebaskan” tiga buah “bola” kecil yang bebas dan berdiri sendiri… 3 Bola kecil itu pada gilirannya akan membelah 3 inti atom uranium lainnya yang ada di sekitarnya. Setiap pembelahan akan menghasilkan 3 buah bola kecil bebas lagi. Masing-masing bola akan membelah atom uranium lagi… Demikian seterusnya, sampai atom uraniun tidak lagi cukup tersedia (bahasa kasarnya: “sampai atom uranium habis”). Inilah yang dikenal sebagai reaksi berantai (Chain Reaction).

Setiap satu pembelahan inti menghasilkan energi. Reaksi berantai membuat energi yang dihasilkan berlipat-lipat.

Inilah prinsip dasar yang dimanfaatkan dalam Bom Nuklir.  Prinsip ini pula yang digunakan untuk Pembangkit Listri Tenaga Nuklir. Secara teknis dan detil teknologinya, bom nuklir dan PLTN sangat berbeda. Namun, dalam secara filosofis  sama saja: mengekploitasi reaksi pembelahan inti atom (reaksi fusi).

Bom Hidrogen

Kebalikan dari bom nuklir, bom hidrogen prinsipnya adalah penggabungan inti atom. Bukan pemecahan inti atom. Dua buah inti atom hidrogen bergabung membentuk satu buah inti atom helium dengan menghasilkan satu buah neutron bebas. Energi yang dihasilkan oleh bom hidrogen ini lebih besar daripada bom nuklir untuk satuan massa yang sama.

 


 

Namun sayangnya, reaksi fusi yang menjadi sumber energi bom hidrogen ini hanya bisa terjadi pada temperatur yang sangat tinggi. Lantas bagaimana cara memperoleh suhu tinggi tersebut? Caranya adalah dengan terlebih dahulu meledakkan bom nuklir. Ledakan bom nuklir ini akan menciptakan suhu yang tinggi, yang cukup untuk memicu reaksi fusi… Selanjutnya, rekasi fusi terjadi… Dan… Blammmm… Meledaklah bom hidrogen dengan kekuatan yang dahsyat.

Jadi, terminologi Bom Hidrogen sebenarnya mengacu pada sebuah bom yang terdiri dari dua bagian: Bom Nuklir dan Bom Hidrogen itu sendiri… Supaya tidak rancu, umumnya bom hidrogen disebut sebagai Bom Termonuklir.

Bom hidrogen terbesar yang pernah dibuat oleh manusia adalah Tsar Bomba buatan Rusia. Bom ini memiliki daya ledak 50 Megaton TNT. Atau 2300 kali lebih besar daripada bom yang diledakkan di Nagasaki pada 1945. Berikut gambar dari Tsar Bomba dan perbandingan daya ledaknya dengan Bom Nuklir yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki.


 


 

 

Bom Hidrogen Kontinu

Pernahkah anda terbayang sebuah bom yang meledak terus menerus? Tentu anda pernah melihat Petasan Cina yang terdiri dari beberapa renteng petasan kecil. Ketika dinyalakan, petasan tersebut meletus satu per satu sampai semua petasan itu habis… Sekarang, sebagai ganti masing-masing petasan tersebut, bayangkan bom hidrogen.. Ya.. Bayangkan satu buah alat, senjata, atau apapun namanya yang terdiri dari banyak bom hidrogen yang meledak satu persatu secara terus menerus. Seperti apakah daya ledaknya?  Tentu sangat dahsyat !!!

Mungkin ada yang akan berkata: Tidak mungkin ada senjata atau alat semacam itu… Tapi, Faktanya : ADA !!!. Ada banyak alat atau benda seperti itu. Bahkan jumlahnya bukan cuma satu alat/benda.. Jumlahnya bahkan bertriliun-triliun di dunia ini.


Benda yang saya maksud adalah Matahari kita dan Seluruh bintang di alam semesta…. Jauh di atas kepala kita. 150 juta km di atas kepala kita, terdapat sebuah bom hidrogen yang meledak terus menerus, kontinyu. Yang selama 5 miliar tahun terakhir telah meledak terus menerus tanpa henti, tanpa menunjukkan sedikitpun penurunan daya ledak. Faktanya, matahari kita malah menaikkan hulu ledakknya hingga 10% tiap 1 miliar tahu. Artinya, matahari kita saat ini lebih panas hampir 50 % daripada 5 miliar tahun yang lalu…


Matahari kita. Dan jutaan bintang di atas sana adalah bom hidrogen yang meledak terus-menerus tanpa henti. Hanya karena jaraknya yang jauhlah mereka memberikan manfaat bagi manusia. Andaikan bom hidrogen kontinyu itu sedikit lebih dekat, pastilah kita akan merasakan dampak buruknya lebih banyak daripada manfaatnya. Bahkan, andaikan mereka sedikit saja lebih dekat dari bumi, tampaknya tidak akan ada kehidupan di muka bumi ini.

Thanks to the Sun. Thanks to the stars. Thanks to their just-right distance to us. We Are Here !!!

 

Bom Hidrogen Kontinyu di Muka Bumi. Mungkinkah???

Mungkin kah manusia menciptakan bom hidrogen kontinyu? Mungkin !!. Bahkan sudah ada usaha yang dilakukan untuk membuatnya. ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor). Berikut gambar Reaktor utama dari ITER.




Proyek pembangunan ITER ini memakan waktu 10 tahun, dan direncanakan selesai pada 2016. Total biaya yang dianggarkan adalah US $ 7.5 Miliar (pada tahun 1989)… Fuihh… Gedhe banget ya? Sebagai pembanding aja nich. Proyek Singa Gas-nya MedCo “hanya” dianggarkan sekitar US $ 70 juta. Tender Proyek LNG terbesar yang pernah coba kami ikuti (meskipun akhirnya gagal) “hanya” sekitar US $ 2 miliar. Dan APBN Republik Indonesia tahun 2009 “hanya” sekitar 1037 triliun rupiah atau US $ 103.7 miliar.

Di kesempatan lain, bila ada waktu, saya akan membahas bahwa Energi Fusi ini lebih bersahabat dan lebih ramah lingkungan, serta lebih aman dibandingkan dengan Energi Nuklir konvensional yang sudah ada saat ini.

Comments
  1. Ts.riyadi says:

    Buehhhh..sampai’ gedeg gedeg aku baca nya’..gak ngerti, he he .
    Lebih nggak ngerti lagi kok kamu sekarang malah milih ngurusi P&ID…

    mantep..saluut dengan postingannya.

    • thing2think says:

      Hehehe.. Begitulah mas TS. Kadang hidup memang bikin kita geleng-geleng :D…. Tapi sepertinya saya masih perlu bimbingan dari Master P&ID seperti mas TS :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s