Berayun dan Terombang Ambing

Posted: April 23, 2009 in Inspiring Qur'an

mudzab-dzabiin

Mereka terombang-ambing di antara (kedua)-nya. (Mereka) tidak masuk ke dalam (golongan) yang ini, tidak pula masuk ke dalam (golongan) yang itu. (Q.S. an-Nisaa’ : 143)

Meskipun secara keseluruhan ayat di atas dan ayat sebelumnya (142) berbicara tentang orang munafik, namun setiap kali merenungi ayat ini, saya merasa tersindir. Saya merasa, sepertinya saya memiliki sifat kemunafikan dalam diri saya… Dan parahnya meskipun saya pribadi tahu bahwa ada sifat kemunafikan dalam diri sendiri, saya tidak mampu mengubahnya ataupun konsisten untuk menghilangkan sifat kemunafikan tersebut. Maka beruntunglah Anda bila bisa istiqomah dan tidak memiliki sedikitpun dari sifat kemunafikan tersebut.

BAHASA YANG MENGESANKAN

Secara subyektif, saya menilai bahasa yang digunakan dalam ayat di atas sangat Catchy. Penilaian saya tersebut terutama disebabkan oleh pemilihan kata dan susunan katanya.

Kata frasa-mudzab-dzabiin merupakan bentuk jama’ yang dalam kamus Al-Munawwir diartikan sebagai “Yang bimbang, yang ragu-ragu“. Namun, bentuk dasar dari kata tersebut adalah dzab-dzaba yang dalam kamus al-Munawwir diartikan sebagai “bergoyang, berayun”.  Seolah-olah, orang yang ragu-ragu dalam bahasa arab digambarkan sebagai orang yang tidak punya pendirian yang tetap. Dia mudah berubah pendirian, ucapan, dan sikap. Mereka ibarat terombang-ambing (atau lebih tepatnya: mengombang-ambingkan diri mereka sendiri) di antara dua pendirian…

Dan yang menarik pula, kata dzab-dzaba itu terdiri dari dua suku kata yang berulang: dzab. Seolah-olah, orang yang ragu-ragu itu berkali-kali berubah-ubah pendirian, ucapan, dan sikap. Bukan cuma sekali !!!… Itu sich pandangan pribadi saya yang tidak banyak tahu tentang bahasa Arab.

Hal lain yang cukup catchy menurut saya adalah kalimat “Laa Ilaa Haa Ulaa-i” yang diulang dua kali.  Kalimat tersebut terdiri dari empat kata: Laa Ilaa Haa Ulaa-i yang secara literal kurang lebih bermakna: Tidak Kepada Ini Orang/golongan.. Supaya lebih enak, maka penggalan ini diterjemahkan sebagai: “Tidak masuk ke dalam golongan ini”. Pemilihan kalimat ini, serta pengulangannya yang sederhana membuatnya sangat catchy bagi saya pribadi… Mau coba??? Coba anda baca: Laa Ilaa Haa Ulaa-i wa Laa Ilaa Haa Ulaa’. Can you feel it?? Very Catchy !!!

Kalau hanya secara literal, ayat di atas berarti : Mereka terombang-ambing di antaranya. Tidak kepada golongan ini dan tidak kepada golongan ini. Perhatikan bahwa hanya ada satu golongan, yaitu golongan ini… Namun, karena ayat sebelumnya bercerita tentang orang beriman dan orang kafir, maka umumnya frasa “golongan ini” yang pertama ditujukan kepada “golongan orang beriman”. Sedangkan “golongan ini” yang kedua menunjuk kepada “golongan orang kafir”.

Jadi, terjemahan keseluruhan ayat di atas adalah: “Mereka ragu-ragu di antara keduanya. Mereka tidak masuk ke dalam golongan orang beriman, dan tidak pula masuk ke dalam golongan orang kafir.“.. So, begitulah kira-kira runtutan penerjemahan yang digunakan untuk memahami ayat tersebut.

SAYA KAH ITU ??

Meskipun ayat di atas bercerita tentang orang-orang munafik, tapi  setiap kali ayat ini dibacakan, saya merasa sayalah yang disindir oleh ayat itu. Terombang-ambing di antara keimanan dan kekafiran. Terombang ambing antara ketaatan dan kedurhakaan.  Itulah menurut saya gambaran yang diberikan oleh ayat di atas. Dan itu pulalah yang saya rasakan tentang diri saya sendiri..

Betapa diri ini tahu mana yang hak dan mana yang bathil. Mana ketaatan dan mana kedurhakaan. Mana yang baik mana yang buruk. Tapi sering kali dengan sadar dan sengaja diri ini lebih memilih yang bathil daripada yang hak, yang durhaka daripada yang taat, yang buruk daripada yang baik.

Betapa tahunya diri ini bahwa sholat berjamaah itu adalah sunnah muakkadah (bahkan ada sebagian ulama yang mewajibkannya untuk pria), tapi betapa seringnya diri ini merasa malas untuk sholat berjamaah.

Betapa tahunya diri ini bahwa Allah itu Maha Melihat, tapi betapa seringnya diri ini melakukan kedurhakaan pada-Nya, seolah-olah Dia tidak mengetahuinya.

Betapa tahunya diri ini bahwa berjamaah (dalam hal apapun) itu lebih baik daripada sendirian. Karena: “domba yang sendirian lebih mudah dimangsa serigala daripada domba yang bersama kawanannya“… Namun betapa diri ini lebih suka sendirian… Lebih suka fardan (sendirian) daripada Jam’an (berjamaah, berkelompok).

Betapa tahunya diri ini bahwa bersedekah itu sangat dianjurkan, hatta kepada orang yang meminta-minta dan pengamen sekalipun (Q.S. 51:19). Tapi, betapa sering-nya diri ini enggan berinfak kepada mereka.

Betapa pula tahunya aku bahwa berjabatan tangan dan bersentuhan kulit dengan bukan muhrim itu dilarang. Tapi, betapa tidak berdayanya diri ini ketika ada seorang wanita yang mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Betapa pula diri ini tahu bahwa menundukkan pandangan itu adalah suatu keharusan. Namun betapa seringnya mata ini jelalatan ke sana ke mari.

Betapa aku paham bahwa lisan itu harus dijaga. Betapa aku mengerti bahwa lebih baik diam bila tidak bisa mengucapkan kalimat bermanfaat. Namun betapa seringnya mulut ini berbicara yang tidak perlu, tidak berguna, dan tidak ada ujung pangkalnya.

Betapa tahu diri ini bahwa tidak boleh berkata “uf” atau “ah” kepada ayah bunda. Namun, betapa seringnya aku mengatakan kata-kata yang lebih pedas daripada sekedar “ah“. Betapa seringnya aku mengucapkan kata yang tidak selayaknya pada mereka. Dan betapa seringnya aku mengecewakan hati mereka.

Ahhhhh… Betapa banyak “betapa”-“betapa” lainnya…

Begitu banyak yang aku tahu. Namun, begitu seringnya tindakanku bertolak belakang dengan apa yang aku tahu itu. Begitu seringnya aku melakukan kebaikan, namun begitu sering pula keburukan kulakukan.

Apakah ada sifat-sifat kemunafikan dalam diri ini????

Aku merasa bukan termasuk golongan orang yang shalih dan baik, namun aku juga merasa tidak pantas pula diriku dimasukkan ke dalam golongan orang bejat dan durhaka… Lantas ke golongan manakah aku akan dimasukkan????

Bukan ke dalam golongan orang shalih, namun bukan pula ke dalam golongan orang durhaka…

Laa Ilaa Haa Ulaa-i wa Laa Ilaa Haa Ulaa-i

(Aku) Tidak termasuk ke dalam golongan yang ini, namun tidak pula termasuk ke dalam golongan yang itu…

Lantas, ke golongan mana aku akan dimasukkan????

Sungguh, beruntunglah Anda yang konsisten dan istiqomah. Beruntunglah Anda yang memiliki ilmu walaupun sedikit, namun perilaku Anda tidak bertolak belakang dengan ilmu yang anda miliki tersebut.

Saya sungguh iri pada Anda !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s