Al-Hadid: Masa yg Panjang dan Hati Membatu

Posted: May 29, 2009 in Inspiring Qur'an
Tags: ,

Bagi saya, Surat al-Hadid merupakan Surat yang inspiratif. Khususnya ketika iman saya lagi puncak-puncaknya pada masa kuliah dulu. Saya bahkan pernah hafal surat al-Hadid ini ketika kuliah dulu. (Tapi sayang, sudah tidak lagi sekarang :-O )

Apa yang membuat saya jatuh cinta???

Ada beberapa hal. Pertama adalah karena “Pandangan” pertama… He he he. Atau lebih tepatnya, pendengaran pertama. Ada pepatah yang bilang, “Cinta itu dari mata turun ke hati”. Banyak yang menyanggah itu dengan mengatakan bahwa cinta itu bisa dipupuk dalam bahtera rumah tangga nanti… Infact, untuk kasus ini, pepatah itu benar untuk saya.

Saya (dulu) jatuh cinta pada surat ini karena “Dari telinga, turun ke hati”… Sa’ad al-Ghomidi membacakan surat al-Hadid ini begitu merdunya. Dan saya jatuh cinta semenjak pertama kali saya mendengarkan beliau membacakan surat tersebut. Coba anda dengarkan sendiri lantunan Surat al-Hadid oleh Sa’ad al-ghomidi. Kalo menurut saya, lantunan itu indah sekali.

Kedua, setelah saya lihat dan renungi maknanya, ternyata surat ini sangat kaya. Mulai dari keindahan susunan bahasanya, kepaduan isinya, dan makna-makna yang terkandung di dalamnya… Dan khusus mengenai makna (kandungan)-nya, surat ini amat sangat kaya sekali. Ia meliputi tentang konsep ketuhanan (Tauhid), keimanan, panduan praktis beriman, panduan beramal nyata (terutama tentang berinfaq di jalan Allah), konsep hari akhir, takdir, kisah nabi, sampai pada isyarat-isyarat sains. Ada bagian-bagian yang disampaikan secara cukup panjang lebar. Namun ada bagian yang disampaikan sekilas tapi amat dalam maknanya… Semuanya terangkum dalam surat yang hanya terdiri dari 29 ayat, tidak lebih dari 4 halaman.

Saya tidak ingin menyampaikan semua makna satu persatu. Untuk sekarang cukup satu ayat saja. Mungkin lain waktu makna yang lainnya akan saya sampaikan.

Q.S. al-Hadiid : 16

Q.S. al-Hadiid : 16

Belum kah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka mengingat Allah dan (tunduk) kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan Al Kitab, kemudian berlalu lah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. al-Hadid : 16)

Mungkin membaca terjemahan di atas, Anda jadi bingung. Mari saya bantu dengan beberapa point berikut.

  1. Bukankah sudah tiba waktunya bagi kalian untuk tunduk hatinya kepada Allah ?
  2. Bukankah sudah tiba waktunya bagi kalian untuk tunduk kepada al-Qur’an ??
  3. Janganlah kalian seperti orang-orang terdahulu, yaitu ahlul kitab !!
  4. Emang kenapa dengan ahlul kitab terdahulu??? Jawabnya lihat point 5 berikut:
  5. Mereka (ahlul kitab) diberi al-Kitab oleh Allah. Lalu berlalu lah masa yang panjang. Karena yang masa panjang tersebut, hati mereka menjadi keras.

Berlalulah masa yang panjang. Lalu mengeras lah hati mereka seperti batu.

Mereka mendapatkan al-Kitab. Lalu masa pun berlalu, dan mereka banyak melupakan Allah, bahkan mereka mengganti ayat-ayat Allah dengan karangan mereka sendiri. Hal itu berlangsung lama. Lamaaa sekali… Hingga akhirnya hati mereka pun membatu. Dan (kebanyakan dari) mereka menjadi orang-orang yang fasiq.

Dan sayangnya, kira-kira hampir seperti itulah yang terjadi pada saya saat ini.

Dulu pas masa-masa kuliah, saya memfavoritkan ayat dengan harapan bahwa setiap saat saya bisa mengingat Allah dan mengambil pelajaran dari ahlul Kitab. Yaitu, pelajaran agar tidak membiarkan waktu yang panjang berlalu begitu saja tanpa mengingat Allah, tanpa dekat dengannya, dan tanpa membaca & mengkaji al-Qur’an…

Namun apa daya, waktu pun berlalu. Berpindah domisili. Berubah lingkungan dan jaman. Lelah dengan banyak hal. Dan hati ini pun perlahan membatu.

Kini, saya melihat ayat ini dengan pandangan sayu. Hal yang harusnya diwaspadai menurut ayat tersebut justru terjadi pada diri ini. Perlahan-lahan hati mulai membatu. Meskipun tidak sampai pada taraf kekafiran, tapi tetap saja terasa benar bahwa hati ini membatu… Lagi pula ayat ini tidak mengatakan bahwa hati membatu itu terus menjadi kafir koq. Ayat itu menyebutkan bahwa penyebab/akibat dari membatunya hati adalah Fasiq, bukan Kafir. (Tidak jelas apakah fasiq itu penyebab atau akibat. Karena kata sambung yang digunakan tentang ke fasiq-an dalam ayat di atas adalah Wa = Dan dalam kalimat “Wa Katsiirun Minhum Faasiquun”. BUKAN Fa = Maka, BUKAN JUGA Li Anna = Disebabkan).

That’s what seems to happen to me. Hopefully not to you.

Saudaraku, aku menyampaikan ini seperti curhat saja. Well, Mungkin memang curhat…

Tapi harapanku yang sebenarnya adalah, istiqomahlah !!!

Jangan sampai apa yang terjadi pada ahlul kitab, terjadi juga pada dirimu.

Sebisa mungkin, jangan sampai hatimu membatu akibat terlalu lama melupakan Tuhanmu.

Dan, doakan saya juga agar bisa kembali memiliki hati yang lunak.

Comments
  1. bundawinny says:

    ikutan baca ya. Alhamdulillah review surat2 dalam Quran bisa jadi kembali mengingatkan..

  2. aba_aci says:

    Amboii…..Salut bt ente ded…
    luar biasa syarat akan makna dan penuh inspirasi…Syukron

    Hampir menangis hati ini, ketika membaca sambil mendengar lantunan murotal dari Syech Sa’ad Al-Ghomidi
    Seumur-umur bari kali ini punya teman satu2 nya yang bisa nulis seperti ini..
    Aku bangga pada mu Ded….Ku tunggu posting selanjutnya….Keep in touch

  3. umar says:

    subhanalloh…pengalaman yg sama dengan surat ini,dengan Al Ghomidi pula,ini surat yg slalu saya baca tiap kali mengimami shalat jumat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s