As-Saabiquun & Golongan Kanan: Generasi Terdahulu lebih banyak dari generasi sekarang??

Posted: February 10, 2011 in Inspiring Qur'an

Salah satu ayat dalam surah al-waqiah yang membuatku bingung selama ini adalah perbandingan antara ayat 10, 13-14, dan ayat 27, 39-40.

Disebutkan bahwa di akhirat nanti, umat manusia akan terbagi menjadi tiga golongan.

  1. Golongan paling beruntung adalah: As-Saabiqun, golongan yg paling dahulu (beriman)
  2. Golongan yang juga beruntung adalah: Ashhaabul Yamiin: Golongan Kanan
  3. Golongan yang merugu adalah: Ash-Haabul Masy’amah: Golongan Kiri

Mengenai As-Sabiquun, ayat 10, 13, 14 menyebutkan:

Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). {10} Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, {13} dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. {14}

Sedangkan mengenai Ash-Haabul Yamiin, ayat 27, 39, 40 menyebutkan:

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. {27} (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, {39} dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian. {40}

Golongan 1 (As-Sâbiqûn) jelas lebih istimewa dibandingkan golongan 2 (Ash-Hâbul Yamîn). Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa golongan 1 terdiri dari segolongan kecil dari generasi kemudian dan golongan 2 terdiri dari segolongan besar dari generasi kemudian?

Mengapa demikian?

Bayangkanlah. Saat ini jumlah populasi manusia 6.9 miliar jiwa. Sekitar 1.41 Miliar beragama muslim. Sedankan populasi generasi terdahulu, katakanlah pada Jaman Rasulullah – tidaklah banyak. Katakanlah 10.000 muslim pada saat itu. Asumsikanlah bahwa seluruhnya tergolong As-Sabiquun.

Bukankah kalau demikian, jumlah muslim yang termasuk As-Sâbiqûn saat ini kurang dari 0.007% saja?? Betapa kecilnya prosentase ini. Apakah memang demikian adanya??

Entahlah.

Tapi tadi siang ada kajian di Kantor yang membahas Surah al-Waqiah.

Ustadz yang menyampaikan materi mentafsirkan kalimat As-Sâbiqûn sebagai “Pelopor” atau “Perintis” kebaikan. Dan seketika itu juga aku pun tercerahkan.

Kalau memang yang dimaksud dengan As-Sâbiqûn itu adalah “pelopor” atau “perintis” kebaikan, maka jelas Generasi terdahulu jumlahnya akan jauh lebih banyak daripada Generasi saat ini.

Bayangkanlah dalam Ilmu Computer. Pelopor Computer Science adalah Alan Turing. Dengan Teori Halting Problem-nya & Turing Machine-nya, dia mencetuskan apa yang bisa dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh suatu mesin, computer, ataupun software. Dengannya ilmu pemrograman dikembangkan. Pelopornya hanya satu: Alan Turing. Tapi penerusnya banyak: mulai dari bahasa Pemrograman Fortran, C, C++, Java, dan lainnya. Alan Turing adalah pelopor ilmu computer. Sedangkan yang lainnya “hanyalah” memanfaatkan kepeloporan Alan Turing saja.

Atau, hal yang lebih familiar bagi para siswa: Newton. Newton adalah Pelopor dibidang Fisika. Dengan Hukumnya Hukum Newton I, II, III, dia menjadi Perintis Fisika Klasik yang bahkan tetap digunakan sampai jaman modern ini untuk Fisika (kecuali fisika dalam skala mikrokosmos). Semua penemu teori yang diturunkan dari Hukum Newton tidak bisa dikatakan sebagai perintis atau pelopor.

Atau contoh yang lebih membumi adalah sebagai berikut. Kertas ditemukan oleh seseorang di China sekian ribu tahun yang lalu. Maka dialah sang perintis atau pelopor. Segala macam bentuk kertas yang ada saat ini memanfaatkan kepeloporan itu.

Dalam agama, akan lebih sedikit lagi kepeloporan. Pelopor orang dermawan mungkin hanya satu dua orang. Pelopor Pondok Pesantren mungkin Cuma satu dua orang. Pelopor kodifikasi al-Qur’an mungkin hanya segelintir orang. Pelopor jihad, tentu hanyalah Rasulullah SAW dan beberapa sahabat yang paling awal menyambut seruan jihad. Pelopor Iman mungkin hanyalah segelintir penduduk Mekkah pada awal-awal masa kenabian.

Dalam kehidupun masa kini, mungkin bisa kita bayangkan seperti ini. Siapakah pencetus ide pendirian Masjid Salman ITB?? Bang Imad! Beliau – bersama beberapa teman seperjuangannya tentunya – adalah pendiri masjid Salman. Dan karena hanya ada satu masjid Salman dan Masjid Salman masih berdiri selama sekian puluh tahun, maka hanya Bang Imad & teman-teman seperjuangannya saja lah yang mendapat gelar Pelopor atau perintis. Bahkan walaupun sekarang setiap hari ribuan orang shalat dan beribadah di masjid salman, tidak ada satupun dari mereka yang berhak mendapatkan gelar “Perintis” atau “Pelopor Pendirian Masjid Salman”. Boleh jadi mereka pelopor dalam hal lain. Tapi untuk pelopor pendiri masjid Salman, maaf- sudah tidak ada lagi lowongan J

Jaman dahulu, belum banyak ladang kebaikan yang dilakukan. Karenanya wajar bila jumlah As-Saabiquun lebih banyak berasal dari Generasi terdahulu. Generasi sekarang kebanyakan hanyalah peniru kebaikan, pelanjut kebaikan, atau penyempurna saja. Memang masih banyak ladang kepeloporan hari ini. Namun tidak sebanyak jaman dahulu.

Demikianlah pencerahanku hari ini. Maka bila kita ingin menjadi As-Saabiquun. Jadilah pelopor dalam kebaikan. Namun juga jangan sampai jatuh ke hal yang bersifat Bid’ah.

Mungkin nasehat ini bermanfaat bagi Anda. Karena bagi saya pribadi, mengejar gelar Ash-Hâbul Yamîn saja sangatlah sulit😦

Catatan Akhir: Tulisan ini bukanlah tafsir. Dan tulisan ini bisa benar, bisa juga salah. Pemahaman saya amat sangat bisa salah. Jadi, jangan terlalu percaya pada tulisan ini (^_^)

Comments
  1. Eyza says:

    Alhamdulillah, terima kasih banyak kerana menclarify kan , saya dah lama confuse dengan ayat-ayat di atas.Syukran jazilan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s